Showing posts with label Sort Story. Show all posts
Showing posts with label Sort Story. Show all posts

Monday, June 16, 2008

Prahara Kematian 3

Namun kemudian sang guru berteriak dengan suara lantang: “Terimalah hidupku wahai raja yang mulia, sebagai pengganti hidup pemuda yang tidak bersalah ini! Akulah yang sebenarnya harus dihukum, karena akulah yang mengajak dia mengembara!”

Pada waktu yang bersamaan, sang guru sufi itu mengangkat tangan kanannya. Lalu pekik menyahutpun membahana, seperti yang sudah diajarkan sebelumnya, “Izinkan kami saja yang mati sebagai ganti guru sufi kami itu!”

Raja menjadi kaget dan keheranan. Lalu dia berpaling kea rah penasihat dan bertanya: “Orang macam apa mereka? Kenapa mereka berebut kematian? Jika in yang dimaksud dengan kepahlawanan, apakah ini tidak berarti sedang memprovokasi penduduk untuk melawan aku? Beri tahu aku penasihat, apa yang harus aku lakukan?” Tanya sang raja, dicekam kebingungan.

“Wahai raja, kalau ini dianggap sebagai kepahlawanan, maka kita harus bertindak kejam agar penduduk takut dan hilang keberaniannya! Tapi saya kira tidak salah kalau saya lebih dahulu bertanya kepada guru mereka,” kata sang penasihat kepada raja.

Dan ketika ditanya, sang guru sufi menjawab: “Baginda yang mulia, telah diramalkan bahwa seorang manusia akan mati hari ini dan sini. Orang itu akan mati dan hidup lagi. Lalu dia akan hidup abadi. Makanya aku dan murid-muridku ingin sekali menjadi orang itu.”

Lalu tiba-tiba kerakusan dalam diri sang raja pun berbisik dalam hatinya: “Kenapa harus orang lain yang mendapatkan keabadian? Kenapa aku membiarkan orang lain untuk mendapatkan keabadian itu! Bodoh sekali aku.”

Dan entah bagaimana sejenak kemudian raja memerintahkan pengawalnya agar segera membunuh dirinya untuk menyongsong keabadian itu. Akhirnya raja yang zalim dan rakus akan kekuasaan itu harus mati demi keabadian.

Sekian
****

Sunday, June 15, 2008

Prahara Kematian 2

Namun akhirnya pengembaraan pun segera dijalankan. Satu deni satu muridnya bergerak. Dan setapak demi setapak pengembaraan terus dijelang.

Setelah berhari-hari melakukan pengembaraan, tibalah sang guru bersama murid-muridnya di sebuah kota. Ketika sampai di kota itu, kota selanjutnya sudah dikuasai oleh raja yang zalim.

Raja kejam dengan pasukannya yang kuat menangkapi semua orang yang masuk ke kota itu. Dan siapa pun harus dipenggal karena dianggap melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri.

Ketika melihat rombongan sang guru sufi, sang raja kemudian memerintahkan pasukannya agar menangkap mereka: “Tangkap orang yang lemah lembut itu dan bawa dia untuk diadili di tengah-tengah alun-alun kota. Aku ingin menghukumnya sebagai seorang penjahat!”

Tidak ada kalimat yang terucap, kecuali: “Siaaa…..ap, paduka raja!” Mereka kemudian menangkapi orang-orang yang ada di jalanan, salah satunya seorang murid guru sufi.

Namun kemudian sang guru sufi mengikuti muridnya yang dibawa para tentara itu menuju rajanya. Genderang ditabuh, suasana riuh. Dan orang-orang penduduk kota itu pun semua berkumpul. Mereka paham kalau genderang yang didengar adalah isyarat kebiadaban dan kematian.

Lalu sang murid itu dilempar ke hadapan sang raja, dan rajapun berkata: “Sebagai contoh, kamu akan saya hokum sebagai seorang penjahat, agar penduduk tahu kalau saya tidak akan membiarkan pemberontakan dan pelarian.”



bersambung...

Saturday, June 14, 2008

Prahara Kematian

Pada zaman dahulu kala diceritakan ada seorang guru sufi memiliki enam puluh murid. Karena kedekatannya, sang guru pun hafal benar dengan kemampuan masing-masing muridnya. Pada suatu sore, sang guru merasa bahwa saatnya untuk melakukan pengembaraan sudah tiba bagi murid-muridnya.
Lalu sang guru sufi itu mengumpulkan semua murid-muridnya. Dia ingin menyampaikan rencananya untuk melakukan tahapan pengembaraan.
“Sekarang saatnya kita harus melakukan pengembaraan yang jauh. Akan ada sebuah kejadian di sepanjang perjalanan yang akan menimpa kita. Aku sendiri tidak tahu, apa itu. Dan kalian, aku piker sudah cukup paham untuk memasuki tahapan pengembaraan ini,” demikian urai sang guru sufi. “Tapi ada satu hal yang harus kalian ingat, yakni perkataan ini: ‘Aku harus mati demi sang sufi.’ Bersiaplah untuk meneriakkannya pada waktunya nanti. Dan aku akan mengangkat tanganku sebagai tanda,” lanjut sang guru sufi.
Para murid mulai berbisik-bisik satu sama lain. Mereka begitu heran dan khawatir, apa maksud dari perkataan gurunya? Ada kecurigaan menyelimuti mereka.
“Guru tahu bahwa kelak akan terjadi peristiwa tragis, dan dia siap mengorbankan kita semua. Guru tidak ingin mengorbankan dirinya sendiri,” kata seseorang dari mereka.
Salah seorang yang lain mencoba berani berkata: “Guru mungkin sudah membuat rencana jahat, boleh jadi itu sebuah pembunuhan. Saya tidak akan melakukan syarat yang diperintahkannya.”

bersambung...